Puasa Yang Sia-Sia
“Betapa banyak orang yang berpuasa, tapi mereka tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga”
[HR. Ahmad].
Hadis ini memberikan gambaran kepada kita untuk sentiasa berwaspada dengan apa yang akan kita lakukan. Ini kerana, puasa tidak hanya diwajibkan untuk menahan dari makan dan minum, tetapi juga menahan mata dari memandang yang dilarang, menahan telinga dari mendengar yang buruk, dan menahan mulut dari bicara kotor dan mengumpat. Juga menjaga tangan dari berbuat maksiat, menjaga kaki dari melangkah ke tempat yang dilarang.
Di malam bulan Ramadhan, Islam memotivasi umatnya untuk mengerjakan amalan sunnah; Solat tarawih dan tadarus al-Quran. Dorongan untuk melaksanakan solat sunnah harus dipahami bahwa solat wajib harus lebih giat lagi untuk dilakukan. Kerana tidak ada solat sunnah bagi yang tidak pernah shalat wajib. Sungguh sangat aneh bila kita giat melaksanakan solat sunnah, sementara solat wajib dilalaikan atau bahkan ditinggalkan.
Ini terjadi kerana umat Islam kerapkali terjebak dalam ritualisme ibadah. Artinya, umat Islam ketika melaksanakan ibadah hanya untuk memenuhi kewajiban semata, tanpa memperhatikan makna dari setiap bacaan yang ia ucapkan atau gerakan yang ia lakukan dalam ibadahnya itu. Akibatnya, ibadah yang seharusnya memberi pengaruh terhadap perilaku, menjadi gerakan atau ucapan yang kosong tanpa makna.
Maka sungguh sangat disayangkan jika di antara kita banyak yang kuat menahan diri dari rasa lapar dan dahaga, sementara tak mampu untuk menahan godaan hawa nafsu. Mulut kita bisa bertahan dari makanan atau minuman, tetapi tidak bisa menahan dari mengumpat dan bicara kotor. Puasanya memang tidak batal, tetapi esensi dari ibadah shaum yang mengajarkan untuk semakin meningkatkan ketakwaan kita, menjadi tidak bermakna. Puasa kita menjadi sia-sia. Sebab tak mendapatkan apa-apa (pahala), kecuali hanya rasa lapar dan haus.
Tiada yang lebih mulia dari pada bulan suci Ramadhan. Maka sungguh sangat merugi bila kita termasuk orang yang mensia-siakan puasa Ramadhan. Sebuah kata hikmah pernah tersimpulkan, bahwa; “Terkadang kita baru merasakan nikmatnya suatu nikmat yang diberikan Allah ketika nikmat itu telah pergi dan berlalu dari kita”. Semoga kita tidak termasuk orang rugi dengan mensiakan bulan Ramadhan ini.
Amin ya rabbal álamin.
0 comments:
Post a Comment